Ads (728x90)

Mampir ke Roma dan berkunjung ke Colloseum saat perjalanan pulang dari Barcelona, 2014


Segala sesuatu itu diawali dengan niat. Dari niat muncul sebuah rencana. Dari rencana timbul aksi. Dan setelah aksi hasilnya bisa macam-macam, banyak sekali. Bisa sesuai dengan rencana, bisa meleset tapi menghasilkan yang lebih baik. Bisa jadi apa saja. Yang pasti tidak ada niat yang mubadzir jika itu diikuti rencana dan aksi yang tulus dan berasungguh-sungguh. 


Dulu sekali saat saya masih anak kecil, saya ingin bisa sekolah ke luar negeri. Minimal bisa ikut program tukar-menukar pelajar atau pemuda-pemudi ke mancanegara. Ya misalnya seorang pemuda bule dari AS atau Australia ditukar dengan pemuda kuning agak gosong dari tatar sunda untuk jangka waktu seminggu atau 3 hari. Dulu keinginan itu hanya angan-angan saja. Itu sekedar cita-cita utopis anak kecil dari ujung kaki gunung cikuray. Waktu itu semacam ada rasa tidak percaya diri, masa anak petani dari kampung bisa ikut program-program seperti itu.


Tapi angan dan cita-cita seperti itu tetap saya jaga, rawat dan saya tekuni syarat-syaratnya. Meskipun mungkin tidak dengan cara yang sistematis. Keinginan menjelajah keluar negeri membuat saya senang sekali belajar bahasa Inggris. Beberapa waktu lalu, mertua saya bilang bahwa belajar bahasa asing itu adalah sunnah nabi Sulaiman. Katanya Nabi Sulaiman bisa menaklukkan jin, manusia, hewan bahkan angin sekalipun karena Ia menguasai bahasanya. 

Masih ingat waktu kecil saya pernah dihadiahi kamus saku kecil yang selalu saya tenteng kemana saja. Setiap menemukan kata-kata baru pasti saya buka kamus itu untuk dicarikan padanannya dalam bahasa Inggris. Dari mulai tiang bendera, kasur, kursi, lemari, baju, sepatu semua kata-kata sederhana saya pelajari dari kamus itu. Ini tidak melebih-lebihkan, bahkan ketika buang air besar pun saya  masih sempat bawa dan buka kamus di kamar mandi karena saking senang dan ingin tahu bahasa Inggris.

Kebiasaan mencari arti kata berlanjut bahkan ketika saya nonton film, terutama film barat. Setiap selesai atau mau nonton film, saya selalu menyempatkan diri untuk membuka kamus supaya tahu apa artinya yang utama dari judul film yang ditonton. Lama kelamaan mencari arti setiap kata dalam bahasa inggris menjadi kebiasaan dan menuai hasil. Saya belajar bahasa Inggris dengan dengan emncari arti kata bukan dengan belajar tata bahasa atau grammatika yang rumit dan bikin pusing itu. 

Dengan etos seperti ini secara perlahan perbendaharaan kata bahasa Inggris saya semakin baik dan bertambah. Tahu banyak arti kata membuat pelajaran bahasa inggris tidak lagi menjadi pelajaran yang menakutkan. Hasilnya kepercayaan diri saya tumbuh. Dalam pelajaran bahasa inggris saya jadi lebih berani untuk tampil, semangat mengerjakan tugas hingga mau mencoba melakukan ceramah dalam bahasa inggris.

Saat masih kelas 1 SMA saya pernah menjadi juara pidato antar SMA se-Kabupaten Garut. Waktu itu saya mengandalkan kemampuan dan gaya berpidato yang saya dapat di pondok dan teks pidato yang saya buat sendiri. Waktu itu banyak peserta lomba yang hanya copy paste naskah dari buku-buku contoh pidato. Saya mengambil langkah berbeda dengan memberanikan diri menyusun dan mengembangkan tema pidato sendiri dari majalah Retas edisi "Sekolah Adalah Candu" terbitan PP IRM. Karena naskah pidato saya kembangkan sendiri, materi pidato lebih fresh dan menawarkan pemikiran baru. Saya ingat waktu itu guru Bahasa Inggris saya adalah pa Rajji Koswara mengernyitkan kening sering sekali saat baca naskah pidato buatan saya. Dia berkomentar isi dan tema pidato cukup bagus, tapi naskah pidato terlalu banyak gaya bahasa langsung yang secara grammatika masih acak adut. Namun waktu itu pa Rajji memotivasi, sepanjang saya yakin, katanya "Go Ahead!".

Lebih dari itu, petualangan dalam berpidato inggris saya terus berlanjut. Tahun selanjutnya saya terpilih untuk ikut lomba pidato antar Pondok Pesantren se- Priangan Timur di Ponpes Darussalam Ciamis, kemudian berlanjut untuk tingkat Jawa Barat di Bandung. Kemudian puncaknya saya mewakili Jawa Barat dalam Porseni Pondok Pesantren Nasional di Ponpes Darunnajah Ulujami Ciledug. 

Niat yang difollow up memang selalu menghasilkan banyak hal yang tidak terduga. Dari modal belajar bahasa Inggris karena ingin kuliah ini akhirnya benar-benar mengantarkan saya dalam beberapa program pertukaran pelajar dan pemuda di tingkat regional dan internasional. Ternyata namanya usaha itu tidak ada yang sia-sia dan mimpi bisa jadi nyata saat benar-benar ditekuni. Tahun 2007 adalah yang pertama kalinya saya ikut program pertukaran yaitu melalui program Moslem Exchange Program Australia Indonesia. Saat itu dalam setahun ada 12 tokoh muda muslim Indonesia yang dibagi dalam 4 grup dengan masing-masing 3 orang berkunjung Australia selama kurang lebih 2 minggu. Saya berkesempatan untuk mengunjungi 3 kota di Australia yaitu Sydney, Melbourne dan Brisbane dan bersilaturahmi dengan akademisi dan tokoh agama di Australia. Suatu pengalaman berangkat ke luar negeri pertama yang begitu mengesankan. Video saya bisa dicek disini.

Setelah itu 2009 saya berangkat ke Singapura mewakili Kemenpora RI dan organisasi pelajar Indonesia dalam ASEAN+3 Leadership Program. Kurang lebih 30 orang pemimpin muda dari negara-negara di ASEAN plus Korea Selatan, Jepang dan Cina berkumpul mempelajari rencana stratgeis pengembangan organisasi pemuda di ASEAN dan kawasan sekitarnya. Foto-foto saya bisa dicek disini. Kemudian 2011 dan 2012 ke Thailand untuk training dan penelitian soal rokok, tahun 2013 saya berangkat ke Amerika Serikat untuk training juga. Kemudian saya juga mengikuti beberapa Konferensi tingkat internasional ke beberapa negara seperti 2014 ke Barcelona, Spanyol (sempat mampir ke Roma, Italia dan Paris, Perancis) dan 2015 ke Cape Town, Afrika Selatan (Sempat transit di London, Inggris dan mampir Istanbul, Turki). Yang paling baru, tahun 2016 saya berangkat ke Bogota, Colombia. Tidak terasa hampir semua benua tanahnya sudah saya injak, salah satunya karena modal bahasa inggris itu. Ada juga yang bilang karena "Balina di palidkeun ka cimanuk" (ari-ari saya dihanyutkan di sungai cimanuk sampe ke samudera pasifik) sehingga tubuhnya pun bisa ikut ke pelosok-pelosok. Ah tapi itu mah mitos. Semuanya nikmat yang harus saya syukuri.

Tapi, niat ingin sekolah ke luar negeri juga membuat saya rela kuliah lama banget, 8 tahun. Ini memang apologi karena diri ini yang kurang bijak dalam mengelola waktu dan menantang rasa malas. Di Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Ciputat, saya bukan mahasiswa level atas dalam konteks akademis. IPK saya di semester 7 itu cuma 2,6 dari skala 4, itu kecil sekali. Dengan perkuliahan pengantar berbahasa arab, diri ini yang lebih seneng bahasa inggris, ditambah sering bolos karena aktifitas berorganisasi dan kerja serabutan untuk bertahan hidup saya waktu itu, jebloknya nilai akademis tidak terlalu saya permasalahkan. Konsekuensinya saya harus banyak mengulang mata kuliah untuk mengamankan syarat beasiswa (Rata-rata syarat beasiswa IPK harus minimal 3.00). 

Akhirnya kuliah saya "ngambai" (panjang) hingga semester 16. Setelah berjibaku memperbaiki nilai-nilai yang kecil dan mata kuliah yang tidak lulus, akhirnya IPK saya membaik. Semester 13, IPK saya jadi 3.01, sebetulnya masih kecil tapi itu cukup untuk bisa jadi syarat daftar beasiswa. Saya yang masuk kuliah tahun 2002, akhirnya lulus tahun 2010. Meskipun dengan penuh onak duri, kuliah 8 tahun selesai dan tidak mogok di tengah jalan. Zaman sekarang dengan sistem yang ada dan musim akreditasi, sepertinya sulit bisa diberi kesempatan kuliah selama itu. 

Pada akhirnya jatuh bangun itu ga bakal sia-sia. Namun perjuangan belum tentu sudah selesai. Meski sudah punya basic bahasa Inggris cukup bagus, IPK juga sudah masuk persyaratan, portofolio sosial sebagai aktifis jadi nilai tambah, namun kesempatan untuk sekolah keluar negeri atau pertukaran tidak akan datang begitu saja. Beasiswa bukan jelangkung, yang datang tak diundang pulang tidak diantar, ia adalah sebuah perburuan yang memerlukan semangat membara dan tekad baja. 

Saya harus daftar beasiswa dulu hingga 7 kali, dengan peluh kesah dan penolakan bertubi-tubi. Dari mulai menyiapkan berbagai dokumen,  legalisir dan terjemah ijazah dan transkrip, ikut berbagai macam tes dari tes IELTS, TOEFL ITP, TOEFL IBT, GRE, tes psikologi, tes kesehatan dan banyak lagi. Belum lagi kita juga harus mengejar surat rekomendasi dari dua orang tokoh atau akademis, mengisi form aplikasi, buat essay study objective dan rencana kuliah, daftar kampus wah banyak deh. Ini harus dibuat tulisan khusus. Namun semua itu harus dijalani. Satu keyakinan yang harus dipegang bahwa berbagai kegagalan tentu itu bukan tujuan, karena keberhasilan lah yang kita cari. Dan selama keberhasilan itu belum dicapai ya jangan pernah membayangkan untuk berhenti sekalipun.

Akhirnya setelah berbagai upaya, ada satu aplikasi beasiswa saya yang lolos hingga tahap wawancara dan sekarang sudah sampai tahap penempatan kampus. Tapi buat seorang pejuang, semua itu belum aman sampai tiket di tangan. Seperti kata Anies Baswedan selama visa belum diterima dan tiket perjalanan belum di tangan maka kandidat belum menjadi penerima beasiswa. Karenanya usaha mendapatkan beasiswa belum sepenuhnya tuntas, masih banyak proses yang harus dilalui. 

Tapi poinnya sekali lagi saya ulangi, semua berawal dari mimpi. Mimpi menjadi rencana dan rencana jadi aksi. Kalo sudah jadi aksi, maka pasti ada hasilnya, dan pasti yang terbaik dan terpantas yang kita dapatkan. So, dream, plan and act! Itu dulu. Dan lihat apa yang akan terjadi...

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung