Beberapa waktu yang lalu saya dan jaringan Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) berdiskusi dengan mas Hamong Santoso dari INFID terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kami mendapatkan banyak informasi penting terkait SDGs dan perkembangannya di Indonesia, termasuk peran yang bisa dimainkan oleh CSO dalam membantu mencapai tujuan dan target SDGs.


SDGs merupakan paket tujuan global yang disepakati oleh banyak kepala negara di dunia untuk melanjutkan Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) yang telah berakhir 2015 yang lalu. SDGs akan menjadi kompas dan roadmap untuk memandu proses pembangunan dunia selama 15 tahun ke depan hingga tahun 2030. 

Kelahiran SDGs yang dibangun dengan pendekatan 'No One Left Behind" menimbulkan optimisme dan pesimisme pada saat yang bersamaan. Mereka yang optimis melihat kelebihan SDGs dalam pendekatannya dari sejak awal pengembangan gagasan dan tujuan yang menjadi kesepakatan akhir. SDGs dilahirkan dengan melibatkan banya pihak dari mulai perwakilan negara, masyarakat sipil, akademisi dan sektor bisnis.

Pendekatan yang partisipatif menjadikan SDGs sebagai tujuan global yang lebih inklusif dan mengakomodir banyak isu dan kepentingan. Inklusifitas ini terlihat dari diakuinya 4 pilar penyangga utama keberhasilan SDGs yaitu Pemerintah, Masyarakat Sipil (CSO), akademisi dan sektor bisnis. Tentu ini langkah yang progresif, karena dalam MDGs peran sektor non pemerintah tidak mendapatkan porsi yang cukup, bahkan cenderung diabaikan. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki SDGs dibanding MDGs. 

Inklusifitas SDGs juga terlihat dari begitu komprehensifnya tujuan yang ingin dicapai, yaitu 17 tujuan dengan 169 target. Banyaknya tujuan dan target menunjukkan SDGs menganalisa permasalahan dengan komprehensif dan integratif. Lebih jauh lagi SDGs menegaskan bahwa 17 tujuan yang ditetapkan memiliki kesatuan yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi antara satu sama lain.

Namun dua kelebihan tersebut diatas justru dianggap sebagai kelemahan bagi kelompok yang pesimis terhadap SDGs. SDGs dianggap sebagai paket kebijakan yang terlalu ambisius. SDGs is too good to be accomplished. Bagiamana tidak? MDGs dengan tujuan dan target yang lebih sedikit, masih banyak negara yang belum bisa memenuhi proposalnya. Apalagi dengan tujuan yang banyak dengam indikator seabreg dalam SDGs maka bisa dipastikan, akan banyak tujuan dan target yang terbengkalai.

Tantangan pelaksanaan SDGs akan terletak pada kesiapan bernagai sektor untuk saling bekerjasama dalam mewujudkan tujuan dan targetnya. Karena dengan pendekatan seperti diatas interdependensi dan kolaborasi adalah faktor penting dalam SDGs dari mulai tahap perencanaan, penentuan prioritas hingga implementasinya. 

Hal ini harus ditunjukkan dengan kesiapan birokrasi pemerintahan mengakomodir keterlibatan sektor lain dalam perumusan, penentuan prioritas dan pengembangan berbagai program terkait SDGS. Ini juga akan menjadi batu ujian penting untuk mengukur sejauh mana keempat elemen ini bisa bekerjasama antara satu dengan yang lainnya.

Maka perlu pendekatan baru dari berbagai pihak agar agenda SDGs bisa berjalan lancar. Pendekatan yang tidak menganggap program pembangunan ini sebagai hal yang biasa, business as usual. Mari kita terlibat agar jargon no one left behind dalam SDGs, membuat Dunia ini Maju dan bahagia warganya. Wallahu a'lam.

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung