Ads (728x90)

Syarat Administratif Fulbright
Syarat Administratif Fulbright

Dalam tulisan sebelumnya saya sampaikan bahwa ada tujuh tahap yang harus dilalui untuk jadi awardee Fulbright. Dan sesuai janji saya di tulisan tersebut, saya share pengalaman saya dalam proses seleksi secara detail dalam tulisan terpisah. Baiklah kita mulai dengan hal-hal penting dalam proses seleksi administratif.

Pertama-tama pastikan kita tahu siapa sebetulnya target dari beasiswa ini. Dalam laman resmi situsnya Aminef menyebutkan secara rinci bahwa yang dicari adalah calon yang punya kepemimpinan yang kuat dan berkomitmen dalam bidang yang digeluti.

Ini akan berpengaruh saat kita mengembangkan essay dan persyaratan lain. Apa saja yang perlu ditunjukkan dan ditekankan dalam aplikasi kita. Aspek kepemimpinan dan keterlibatan dalam masyarakat harus lebih ditonjolkan.

Kedua, pastikan apa saja syarat administratif yang harus di penuhi, jangan sampai ada yang terlewat atau keliru melampirkan. Situs resmi Aminef menyebutkan syarat beasiswa Fulbright dengan rincian sebagai berikut:
  1. Form Aplikasi
  2. Surat Referensi / Rekomendasi
  3. Fotokopi Ijazah dan Transkrip (minimal IPK 3.0)
  4. Terjemahan bahasa inggris resmi Ijazah dan transkrip
  5. Resume / Curriculum Vitae
  6. Bukti kemampuan Bahasa Inggris (TOEFL 550/ IELTS 6.5).
Untuk mempermudah, fulbright menyediakan ceklis yang bisa dipakai, silahkan dicek disini. Meskipun untuk GRE/GMAT, writing sample dan work sample biasanya diminta setelah lulus seleksi wawancara. 

Bahasa Inggris Sebagai Kunci

Bapak mertua saya pernah cerita, salah kelebihan Nabi Sulaiman adalah menguasai banyak bahasa. Nabi Sulaiman bisa menaklukkan bangsa jin, hewan, angin karena ia menguasai bahasanya. Karena bisa memahami, maka ia mampu mempelajari dan menggali informasi sebanyak mungkin soal makhkuk-makhluk itu. Bahasa adalah simbol dan aspek penting sebuah peradaban. Karenanya penguasaan Bahasa suatu komunitas adalah suatu keniscayaan jika ingin benar-benar memahami budayanya.

Nah terkait Fulbright, syarat kemampuan bahasa ini seringkali menjadi kendala banyak pemburu beasiswa. Banyak kandidat yang cerdas, kualifikasinya mumpuni namun karena tidak bisa memenuhi syarat bahasa akhirnya harus rela melewatkan kesempatan dapat hibah ini.

Yang perlu dicamkan bahwa persiapan bahasa tidak bisa dilakukan secara instan. Ia perlu komitmen, waktu, praktek dan kecerdasan juga. Karena bahasa sejatinya adalah skill, yang semakin diasah akan semakin baik, maka kuncinya adalah praktek, praktek dan praktek. 

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Beberapa hal yang pernah saya lakukan adalah rutin menerjemahkan, baca berita bahasa inggris, karaoke bahasa inggris dan menulis. 

Namun kalo mau lebih serius lagu dan ada uang, persiapan bisa dibantu dengan kursus. Di Jakarta salah satu lembaga kursus yang bagus tapi ekonomis ada di LBUI baik di salemba ataupun di Depok. Disana ada banyak program yang bisa diikuti seperti writing class, speaking class, IELTS/TOEFL Preparation atau English for Academic Purpose. Di tempat lain untuk persiapan TOEFL IBT dan IELTS harga kursusnya diatas 3,5jt, sementara di LBUI masih dibawah 2 jt untuk 3 bulan.

Belajarlah dengan serius, atau ambil intensif selama 3 atau 6 bulan, lalu ikut test TOEFL ITP atau IELTS. Targetkan TOEFL minimal 550 dan IELTS 6,5. Jika sudah punya salah satu diantara dua itu, kita bisa apply ke kemana-mana. IELTS or TOEFL score will bring many opportunities. Dengan punya skor dua ini kita bisa daftar hampir ke semua beasiswa apapun.

Study Objective dan Personal Statement

Dua essay ini sangat penting bagi kita sebagai pemburu beasiswa juga bagi Fulbright sebagai pemberi beasiswa. Bagi kita, dua essay ini membantu memperjelas kenapa kita ingin sekolah lagi dan apa targetnya. Pemikiran ini akan dimatangkan saat kita menulis essay ini. Bagi pemberi beasiswa dua essay ini akan memberi gambaran nilai strategis dan kelayakan kandidat mendapatkan beasiswa. Tentu karena uang beasiswa nya terbatas maka harus diberikan pada kandidat yang benar-benar bisa memberi dampak yang lebih luas.

Essay Study Objective akan menjelaskan apa saja yang sudah dilakukan, apa yang ingin dipelajari dan kenapa ingin sekolah lagi, apa yang akan dilakukan setelah pulang. Tiga hal ini biasanya yang diminta untuk dituliskan. Sedangkan essay Personal Statement akan memberikan gambaran motivasi kandidat dalam melanjutkan studi. Isinya sangat personal. Bisa menceritakan latar belakang keluarga atau pengalaman pribadi.

Aminef sebetulnya memberikan video yang berisi saran bagaimana kita menyusun dua essay tersebut. Cek videonya di bawah ini. Menurut video saya ini sangat membantu.


Yang perlu diperhatikan bahwa essay study objective dan personal statement ini bukan narasi dari curriculum vitae. Jadi keduanya sebaiknya mencantumkan isi yang berbeda dari CV kita. Karenanya essay tentu akan lebih berbicara lebih banyak dan menggambarkan siapa kita daripada CV.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam  menyusun essay adalah kejelasan poin-poinnya, orisinalitas isinya dan kesesuaian dengan profil beasiswa yang diapply. Setiap beasiswa itu pasti punya preference dan target tertentu. Pastikan kita tahu siapa yang mereka bidik untuk dijadikan awardee.

Perkuat Leadership

Anies Baswedan salah seorang Fulbrighter pernah menyatakan pentingnya leadership dalam perjalanan karir seseorang. IPK tinggi akan membuat kita memenuhi kualifikasi untuk wawancara tapi untuk lolos dan mendapatkan pekerjaan kita harus punya pengalaman leadership.

Pemberi beasiswa akan sangat mempertimbangkan kontribusi kita di masyarakat. Apakah pengalaman dalam memimpin organisasi, mendirikan dan mengembangkan komunitas atau sumbangsih pikiran dalam bentuk tulisan di media massa atau jurnal.

Oleh karena itu sejak jauh hari kita harus pula menyusun dan mengembangkan portofolio kita di masyarakat. Aktif dalam organisasi pelajar, mahasiswa, jaringan advokasi adalah nilai lebih seorang aktifis dalam seleksi beasiswa. Maka bagi mereka yang belum aktif, segeralah mengaktifkan diri di organisasi, kemudian catat dan tulis pengalaman kita serta cantumkan dalam CV atau kembangkan dalam essay kita. Pengalaman-pengalaman itu bisa meyakinkan pemberi beasiswa bahwa kita adalah kandidat yang tepat.

Ijazah dan niali IPK dilegalisir dan Diterjemahkan
   
Soal syarat ijazah biasanya memang tidak bisa ditawar lagi harus minimal 3.0 dr skala 4. Jika kurang dari itu maka kita bisa gugur sejak awal karena dianggap tidak qualified. Ini pula kenapa dulu saya berjuang mati-matian memenuhi syarat ini untuk menjaga asa mendapatkan beasiswa.

Hal lain yang perlu dicatat bahwa ijazah dan transkrip ini juga harus diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah (penerjemah resmi) dan dilegalisir oleh pihak yang menerbitkannya (kampus) atau notaris. Biaya penerjemahan dokumen biasanya dihitung per lembar, dengan harga berbeda-beda tergantung tarif penerjemahnya. Pengalaman saya berkisar 50 ribu - 100 ribu per lembarnya.

Surat Referensi

Syarat lain adalah 2 surat rekomendasi atau referensi dari pembimbing akademik (atau dekan) dan dari supervisor (atasan kita di tempat kerja). Untuk Fulbright ada format referensi yang khusus, bisa didownload disini.

Selain menjelaskan prestasi dan reputasi kita oleh pihak ketiga, referensi juga penting untuk menunjukkan atasan kita akan mendukung proses seleksi beasiswa yang panjang ini. Terutama bagi PNS, administrasinya biasanya lebih complicated.

Pemberi referensi biasanya orang-orang sibuk, sehingga kita harus intens untuk menghubungi dan mengingatkan. Dalam banyak kasus seringkali yang bersangkutan tidak sempat ngedraft surat karena kesibukan sehari-hari. Maka kita harus siap dengan draft awal untuk diberi masukkan. Menyiapkan draft akan membantu memperlancar proses ini. Sediakan waktu yang cukup, untuk mengurus proses ini sekira satu hingga dua bulan.

Doa adalah senjata

Jika semua persyaratan teknis sudah lengkap, maka perjuangan atau tanggung jawab kita sebagian besar sudah selesai. Kalo kata senior saya Raja Juli Antoni, memburu beasiswa bukan menunggu datangnya lailatul qadar dengan berkhusus itikaf di mesjid, tapi harus sigap dan siap memenuhi persyaratan kesana kemari. Maka upaya yang dilakukan harus teknis juga.

Namun tentu jurus lain yang sedari awal dan penyempurna dari segala upaya adalah berdoa. Doa adalah senjatanya orang-orang yang beriman. Kalo kita sudah berazzam sepenuh hati, mencurahkan segala daya dan upaya untuk mengejar yang disyaratkan maka saatnya kita menyerahkan segalanya kepada Allah swt. Dengan mental positif bahwa apapun hasilnya tentu yang terbaik bagi kita.

Yang perlu dilakukan juga berdoa dan meminta restu kepada ibu dan bapak serta pasangan. Senior saya yang laib bilang beasiswa itu ada di bawah telapak kaki ibu. Sekuat apapun usaha jika pasangan dan ibu tidak merestui maka mungkin jadi tidak berkah, banyak kendala dan hasilnya bisa tidak maslahat.

***

Akhirnya, selamat mempersiapkan berbagai persyaratan bagi para pemburu beasiswa. Semoga bagi yang daftar tahun ini mendapatkan kabar gembira, bahwa tahun depan berangkat studi ke luar negeri gratis.... tis ... tis...

Tambahan :
Berikut ini beberapa dokumen yang saya sertakan dalam aplikasi ke Fulbright. Dokumen ini sekedar contoh bukan untuk dicopy paste. Semoga bermanfaat.

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung