Ads (728x90)


Memburu Beasiswa

Man Jadda Wajada. Peribahasa bahasa arab (mahfudzat) ini begitu terkenal dan akrab di telinga kita. Artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil mencapai cita-citanya. Apalagi setelah Ahmad Fuadi menjadikan peribahasa ini sebagai ide dasar dari Novelnya yang fenomenal, Negeri Lima Menara.

Kesungguhan dan pantang menyerah memang jadi mantra kunci dalam menggapai cita-cita. Mahfudzat lain soal enam rahasia menuntut ilmu, menyebut Hirshin (keteguhan) sebagai syarat pertama.

Begitu juga dalam mengejar beasiswa luar negeri. Pantang menyerah / gigih adalah syarat utama. Baik itu kegigihan dalam proses aplikasi, juga dalam proses mematut diri memenuhi persyaratan. Sisanya adalah soal kecocokkan dan jodoh.


Saya daftar beasiswa luar negeri 9 kali, 6 kali disubmit, 3 kali sampai proses persiapan. Saya daftar ke Australia 3 kali, New Zealand 1 kali, Amerika Serikat 1 kali, Jerman 1 kali dan LPDP 2 kali. Berani mendaftar sebanyak itu saja sudah suatu keberhasilan. Karena pendaftaran beasiswa itu perlu jam terbang dan pengalaman. Memang kita bisa temukan banyak tips dan saran di berbagai blog. Tapi merasakan pengalaman langsung tentu hasilnya berbeda. Kata orang "Practice makes perfect", makin banyak latihan maka makin baik.

Dari berbagai pengalaman itu saya ingin sharing beberapa saran yang bisa dipertimbangkan dalam proses memburu beasiswa:

1. Bulatkan tekad dan Siapkan persyaratan

Niat untuk sekolah ke luar negeri sudah saya pupuk sejak SMA. Saya belajar bahasa inggris karena ingin kuliah keluar negeri. Hingga saya rela kuliah lama untuk mengamankan syarat-syarat beasiswa.

Secara umum persyaratan beasiswa dmana-mana tidak terlalu jauh berbeda. Persyaratan yang selalu ada biasanya kemampuan bahasa inggris (TOEFL IBT minimal 90/IELTS minimal 6,5), IPK minimal 3.0 dan transkrip nilai, 3 surat rekomendasi dari orang yang tahu sepak terjang kita baik itu di kampus atau dalam organisasi / pekerjaan, personal statement / letter of intent dan rencana study /study objective. Ada satu lagi yaitu proposal penelitian, terutama untuk calon mahasiswa S3 atau S2 yang fokus pada riset.

Persyaratan lain yang tidak kalah penting adalah portofolio di bidang kepemimpinan. Untuk menunjukkan bahwa kita bisa berkontribusi pada masyarakat yang lebih luas. Karena beasiswa biasanya ditujukan untuk membantu sektor tertentu tergantung prioritas dan kebijakan pemberi beasiswa.

Semua persyaratan harus disiapkan jauh-jauh hari, paling tidak sejak mulai masuk kuliah. Dalam proses seleksi kita akan bersaing dengan banyak orang, sementara jumlah beasiswanya terbatas. Jadi persaingan selalu ketat. Jangan sampai keinginan sudah menggebu, niat sudah bulat, usaha mau dimaksimalkan, tapi terganjal karena persyaratan yang tidak memadai.

2. Mulai sejak awal

Dulu saya baru apply beasiswa saat usia 28 tahun. Ini memang agak terlambat karena kuliah S1 yang molor. Saya baru lulus tahun 2010, dan mulai daftar tahun 2013. Pelajarannyya semakin dini kita mendaftar, semakin banyak kita mendapatkan pengalaman trik dan tips menggaet beasiswa. Sekali lagi pengalaman adalah guru terbaik, lebih jitu dan afdhol dari sekedar pemahaman.

Daftar lebih awal, juga ada kaitannya dengan syarat beasiswa. Di banyak beasiswa ada persyaratan batas umur. Misalnya untuk S2 biasanya maksimal 35 tahun, sementara S3 maksimal 40 tahun. Ini ada kaitannya juga dengan panjangnya waktu produktif setelah studi. Kalo ketuaan nanti tidak cukup waktu untuk mengamalkan ilmunya.

3. Apply sebanyak-banyaknya

Seperti saya sampaikan diatas bahwa beasiswa itu juga soal keberuntungan dan kecocokan. Itu soal jodoh. Kita tidak tahu program mana yang jadi takdir kita. Oleh karena itu daftar sebanyak-banyaknya, dan manfaatkan setiap kesempatan. Jangan hanya fokus pada satu beasiswa. Lebih baik semua peluang kita masuki.

Karena persiapannya sebetulnya bisa disamakan. Rata-rata persyaratannya sama setiap beasiswa, hanya berbeda di format dan timing saja. Daftarlah ke semua penyedia beasiswa yang persyaratannya bisa kita penuhi. Dengan seperti itu maka kemungkinan kita untuk lolos akan semakin besar.

Dalam setahun kita bisa daftar ke banyak penyedia beasiwa. Awal tahun ada beasiswa ke AS dengan Fulbright, ke Australia dengan Australia Awards Scholarship (AAS). Pertengahan tahun ada beasiswa Orang Tulip atau Stuned ke Belanda, juga ada DAAD ke Jerman. Kemudian sepanjang tahun ada beasiswa LPDP. Belum lagi ada beasiswa Erasmus, Ford Foundation, World Bank, Turki, ADB. Kita bisa daftar ke semuanya.

4. Konsultasi pada yang senior

Ini poin penting juga karena kita tidak perlu berproses dari awal. Kita bisa belajar dari postingan di blog para penerima beasiswa terdahulu. Atau bisa juga konsultasi dengan senior lain yang sudah berangkat kesana langsung, mohon masukkan essay dan tips-tips menyiapkan bahasa dan persyaratan lain.

Kita bisa belajar kepada mereka yang berhasil untuk mendapat best practice atau yang belum berhasil untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan. Maka semuanya akan berjalan dengan lebih mudah.

5. Banyak-banyak berdoa

Perjuangan tanpa doa itu sombong. Pada akhirnya memang ada hal-hal lain yang tidak bisa dicapai hanya dengan ikhtiar manusia. Perlu ada faktor x atau keajaiban. Maka dalam prosesnya kita harus banyak berdoa agar dimudahkan dan diberikan jalan untuk melewati kesulitan. Dengan berdoa hasil yang kita dapatkan adalah yang terbaik dan mental pun akan lebih kuat. Doa adalah senjata.

Tentu selain lima hal ini banyak tips dan saran lain yang bisa dikerjakan. Yang perlu juga dipahami bahwa proses memburu beasiswa ini sangat menantang, perlu waktu dan ketahanan. Prosesnya juga panjang bisa bertahun-tahun. Tapi sebagai pejuang, usaha maksimal harus dilaksanakan. Pada akhirnya setelah usaha maksimal maka hasil terbaik yang akan dicapai.

Selamat berburu beasiswa!

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung