Bagi orang tua tidak ada yang lebih berharga daripada anak-anak mereka. Karena anak adalah belahan jiwa dan sumber kebahagiaan bagi setiap orang tua. Ia adalah amanat yang harus dijaga dan ditunaikan, diurus dan dididik dengan baik, juga harapan dan mimpi yang menjadi kenyataan. Saya sama kali tidak habis pikir dnegan orang tua yang menyia-nyiakan anaknya.

Pada dasarnya semua orang tua akan berharap dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun cara menunjukkan kasih sayang dan harapan ini tidak selalu sejalan atau sesuai antara usaha dan hasil. Niat baik ortu bisa jadi terealisasi dengan cara yang tidak pas, yang akhirnya juga diterima dengan kondisi yang tidak sesuai pula dari anaknya. Kita punya mindset dan cara sendiri, sementara anak-anak tumbuh dan hidup pada zaman yang berbeda, dan tentu mereka juga punya keinginan dan cara pandang yang berbeda. Ada zaman dan waktu yang berubah.

Pilihan parenting dan gaya mendidik, gaya menjadi orang tua kita juga harus disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan anak-anak. Secara praktis masa-masa awal pertumbuhan, sejak dari kandungan dan hingga beberapa tahun pertama mereka tumbuh adalah waktu yang tepat untuk menanamkan nilai dan karakter. Children see, children do. Apapun yang kita lakukan, akan menjadi acuan dan teladan bagi sang anak. Jangankan kata, tatapan dan gerak mata sekalipun akan ditirunya.

Beda lagi jika ia mulai tumbuh dewasa, perlahan segala macam relasi bersifat instruksi dan penanaman tidak akan selalu efektif untuk membangun kedekatan yang cukup erat dengan anak. Semua orang butuh otoritas, dan kemandirian tidak bisa ditanamkan jika semua hal diurus diarahkan, tanpa memberi ruang untuk berkembangnya kepemimpinan pada putra dan putri kita.

Mungkin terlalu jauh ya, saya ingin share saja momen-momen dimana pada masa-masa awal-awal usia perkembangan anak, mereka akan begitu tergantung kepada kita. Ada istilah anak jadi buntut orang tuanya, terutama ibu, kemanpun diikuti pun ke kamar mandi sekalipun. Namun banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk memaksimalkan masa-masa itu untuk membangun ikatan dengan anak-anaknya. Baik karena sibuk kerja, waktu yang sedikit, jarak yang tidak memungkinkan, atau mungkin kesalahan dalam menentukan prioritas.

Masa-masa dependen mereka dengan kita tidak akan lama. Masa-masa kita bisa kuyel-kuyel anak, dipeluk, cium, pangku, gendong, mungkin hanya bisa dinikmati 0-5 tahun usia mereka. Sebelum usia-usia sekolah, saat kita sebagai orang tua jadi satu-satunya lingkungan yang dia miliki. Sebagai satu-satunya kemungkinan significant other bagi mereka. Saat mereka muali sekolah, orang yang berpengaruh bertambah dengan teman-teman sekolah, teman bermain dan ibu dan bapak guru di sekolah. Peran orang tua mendapatkan saingannya. Sumber dan referensi belajar dan yang mereka lihat  bertambah, peran kita mau tidak mau, sadar atau tidak, akan terus berkurang dan semakin menyusut sesuai dengan perkembangan dan perluasan pergaulan sang anak.

Jika kita kehilangan momentum, bukan tidak mungkin, hubungan dengan anak akan renggang, berjarak dan dingin. Semoga itu tidak. Menjalin kehangatan dan kedekatan dengan anak itu penting, karena jembatan itu harus segera dibangun sebelum jembatan-jembatan lain dari pengaruh yang lain hadir dan tidak ada lagi ruang emosi bagi mereka yang membutuhkan hubungan dengan kita.

Pada masa-masa awal, bukti cinta kepada bagi anak sebetulnya sangat sederhana, waktu dan 'ada'. Kehadiran kita ditentukan bukan hanya karena kualitas interaksi, tapi juga intensitas, dan masa itu tidak akan bisa diulang.

Semoga kita bisa jadi orang tua yang bisa dirasakan keberadaannya oleh anak-anak kita. Mari....

Post a comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung