Merantau dan pergi ke daerah baru memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Karena dengan melakukan perjalanan ke tempat baru ada konteks dan kondisi yang berbeda yang akan didapatkan. 

Begitu pula juga kita berangkat ke luar negeri. Kita akan mendapati banyak hal yang berbeda, dari sistem hukum dan peraturan yang berbeda, kebiasaan dan budaya serta orang dan kondisi sosial yang berbeda. 

Orang yang pernah atau sering jalan ke tempat baru, termasuk ke luar negeri akan memiliki sikap mental yang lebih luwes, lebih terbuka dan siap menerima hal-hal baru. Singkatnya ia akan lebih bijak menghadapi perbedaan. 

Saya beruntung bisa berkesempatan berangkat keluar negeri meskipun untuk sekedar ikut konferensi atau pelatihan. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk tinggal agak lama di AS, untuk belajar. Dan dari pengalaman itu ada beberapa hal menarik yang bisa di share. 



Ada 4 hal yang berbeda saat keluar negeri yang bisa dishare. 

1. Perbedaan waktu dan Mindset Soal Waktu

Perbedaan letak geografis membuat banyak perbedaan. Letak jauh dan dekat ke garis tengah bumi, hingga beda jarak ke kutub utara atau selatan memberi perbedaan. Di negara yang jauh dari katulistiwa, panjang siang dan malam terasa jauh berbeda. Di musim panas, siang begitu panjang, sementara di musim dingin, malam begitu lama. 

Perbedaan ini pula memberikan konsep yang berbeda soal waktu. Di AS yang posisinya persis di belahan lain dari bumi ini, siang jadi malam dan begitu sebaliknya. 

Mindset dan bagaimana menghargai waktu berbeda dari satu kultur dari kultur yang lain. Sederhana bisa kita lihat dari kata-kata bijak yang berkembang dari keduanya. Di Indonesia sepanjang yang saya ingat kata bijak soal waktu adalah "alon alon asal kelakon" "biar lambat asal selamat". Setidaknya dua ini yang saya ingat. 

Atau dalam percakapan sehari-hari kata waktu biasanya yang digunakan tidak terlalu presisi misal 'nanti', 'sebentar', 'sejenak' atau terlalu panjang misalnya pagi, siang, sore, malam atau kemarin, lusa, besok.

Sementara disini kata bijak soal waktu yang masyhur adalah 'time is money', waktu adalah uang. Begitu pula dalam percakapan sehari-hari misalnya tunggu sebentar biasanya diungkapkan dengan menit. Can you give me a couple minutes, wait a minutes. Maksudnya kata yang digunakan lebih presisi dan mudah untuk diukur. 

Begitu pula dalam menghitung kerjaan misalnya di negara kita secara umum pekerjaan diukur dengan ukuran tahun atau hari. Meskipun dikenal kosakata 'jam kerja' tapi tidak mesti sebuah kerjaan diitung dalam rentang jam.

Sementara disini waktu kerja diitung per jam. Saya masih ingat dalam mata kuliah Cost Benefit Analysis, untuk menghitung produktifitas atau nilai waktu adakah pendapatan per capita dibreakdown dengan jumlah minggu, hari hingga ke jam. Di US UMR dihitung dalam satuan jam. Misalnya di Ohio rata-rata upah per jam adalah $10/hour. Sementara di Indonesia UMR dihitung dalam satuan bulan, UMR per bulan. Meskipun untuk pendapatan biasanya diukur per tahun. 

Ada kajian menarik yang saya temukan dari kelas Comparative Public Policy soal perhitungan jam kerja. Bagi pekerja satuan waktu lebih kecil sebetulnya lebih menguntungkan daripada satuan waktu lebih besar. Contohnya gaji sebulan akan sama terlepas jumlah hari atau minggu dalam sebulan bisa berbeda. Padahal kerja di bulan yang terdiri dari 4 minggu berbeda dengan kerja di bulan yang 5 minggu. Setahun ada 12 bulan, tapi ada 50 minggu.

Pendek kata, memang ada perbedaan konsep dalam memaknai waktu. Bisa karena faktor budaya atau juga bisa jadi karena faktor demografis. AS sudah lama mengalami proses industrialisasi. Lebih banyak orang hidup di kota dan persaingan usaha sudah menjadi norma hampir dimana-mana. 

Atau juga memang ada faktor lain yang berkontribusi bisa dicari lagi apa. Silahkan komen di kolom bawah ya. 

2. Konsep Kebersihan

Poinnnya sebetulnya saya mau share soal mayoritas disini yang pake WC kering tanpa gayung juga tidak ada WC jongkok. Dua hal ini bagi saya sebagai orang kampung dan orang Islam sangat tidak membuat nyaman dan nilai minus. 

Karena sejak kecil saya diajarkan bahwa kalo buang air harus cebok dan dalam islam bersuci dari hadats itu ya dengan air kecuali dalam kondisi darurat. Bahkan ada hadits yang menyatakan bahwa jika orang Islam tidak berasuci setelah ia buang air kecil maka ia akan mendapatkan hukuman di alam kubur. 

Nah di AS saya mendapatkan kondisi yang berkebalikan dengan logika itu. Mayoritas WC disini adalah WC kering dan bersih-bersihnya pake tisu. Kalo pake tisu basah kayaknya lebih mending, lha anak-anak kami saja dibersihkan pake tisu basah mendingan. Bahkan di kampus saya, sama sekali tidak menemukan wc basah. Satu-satunya WC yang memungkinkan untuk 'basah-basahan' hanya kamar mandi di Islamic Center, Athens, itupun dengan bantuan pengki penyiram tanaman. 

Sampai menjelang akhir masa studi saat ini sekalipun saya belum bisa beradaptasi dengan satu hal itu. Mungkin kalo soal WC duduk bisa kita menyesuaikan, tapi soal tisu buat yang itu saya belum 'tega'. Makanya saya sama sekali kurang faham jika nanti di mall-mall di Indonesia yang mayoritas banyak orang seperti saya, kemudian WC nya diubah jadi WC kering semua. Terlaluhhh...

Saat mau nulis ini juga saya baru ngeh kenapa disini sangat tidak sopan kalo keluar dari WC sama sekali tidak cuci tangan pake sabun. Apalagi di restoran dan tempat makan. Begitu pula kenapa makan langsung dengan tangan juga jadi kurang enak untuk dibayangkan. Coba bayangkan anda sudah kebelet dan sakit perut, dan di kamar mandi hanya pake tisu, adalah sebuah blunder besar jika makan pake tangan langsung. Jangan bayangkan.... Please!!!!


3. Makanan yang rasanya dingin

Dingin disini bukan lawan panas tapi lawan dari bercitarasa dan beraroma. Rasa makanan biasanya tawar dan bumbu yang dipakai paling banter pake garam dan merica atau blackpepper. Dioles-oles pake saus tomat sudah luar biasa.

Maka tidak heran jika warung makan dari timur jauh, latin amerika, india dan Eropa atau makanan yang menawarkan rasa yang berbeda akan menawan minat pembeli. Satu pengalaman di OU adalah saat Permias bikin acara baik itu seminar, piknik atau fundraising dana dengan menggunakan makanan indonesia peminat membludak tak tertahankan. 

Kami jualan sate kambing seperti sate maranggi dengan bumbu bawang putih, bawang merah, gula dan kecap manis diserbu dan dipuji setinggi langit. Sate legit nikmat itu memang tidak akan sebanding dengan rasa lokal yang dingin.

Seringkali kita menikmati semua itu sebagai sesuatu yang taken for granted, padahal semua yang kita nikmati adalah sebuah kemewahan. 

4. Lain-lain

Hal lain yang saya rasakan berbeda adalah soal denda dan ketertiban terutama masalah penegakkan dan penghormatan terhadap hukum dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya secara relatif pemahaman dan penegakkan secara umum lebih merata. Seperti ada kepercayaan lebih bahwa apapun yang diatur akan dilaksanakan dengan baik.

Poin lain adalah soal self service dan pelayanan pribadi. Mungkin karena budaya yang berbasis kebebasan individu sehingga secara relatif pun budayanya menjadi lebih individualistis. Dalam diskusi lebih jauh ini pula yang membuat kenapa di US cost untuk jasa itu lebih mahal dibanding di tempat lain. Begitu pula kenapa sektor swasta juga memiliki andil lebih besar dalam memberikan pelayanan.

Untuk dua hal ini sepertinya nanti saya akan share lebih jauh. Untuk saat ini empat hal ini dulu yang bisa saya share soal apa yang ditemui sejauh ini. Semoga bermanfaat.

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung