Ini postingan yang sudah lama tertunda. Satu entry soal apa saja sih yang saya pelajari selama 'nyantri' di Ohio University selama kurang lebih 2 tahun sejak 2017-2019. Dan kenapa pas pulang saya malah ngajarnya di FIKES Uhamka bukan di FISIP atau fakultas yang lain? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis dan serumpun dengan pertanyaan-pertanyaan ini. 

MA in International Development Studies

Oke pertama, jurusan yang saya ambil di Ohio University adalah Master of Arts in International Development Studies. Apakah gerangan itu? Ini pada awalnya dikembangkan dari program graduate certificate untuk professional development officer. Kurang lebih kursus untuk para profesional di program-program pembangunan internasional. Dari mana saya tahu ini? baru ngeh di akhir di history mata kuliah di sebutkan bahwa ini masuk ke profesional graduate certificate.

Namun pada akhirnya program ini diupgrade menjadi degree program yaitu MA in Internatioanl Development Studies. Kelebihan dari program upgrade ini adalah ia mengajarkan banyak kursus yang sangat membantu sebagai bekal untuk masuk ke dunia profesional di bidang pembangunan international, namun juga di lengkapi dengan pemahaman teori dan metodologi terkait studi pembangunan internasional. 

Sehingga memang programnya sangat kuat di sisi teori juga praktis. 

Jurusan Dengan Pendekatan Interdisipliner

Program MA in International Development Studies ini ada di bawah Center for International Studies (CIS) di Ohio University. Sebuah pusat kajian yang mendorong pendekatan interdisipliner dalam berbagai jurusannya. Di CIS OU pada zaman saya ini ada beberapa jurusan (5/lima) selain International Development Studies (IDS), Communication for Development (ComDev), ada juga studi kawasan seperti Asian Studies (dulu katanya sempat ada South East Asian Studies), American Studies (fokus studi kawasan amerika latin), dan African Studies. 

Nah mungkin saya perlu share soal pendekatan interdisipliner dalam CIS ini. Yaitu bahwa pendekatan studi di CIS menggunakan berbagai disiplin ilmu untuk mengelaborasi dan menjelaskan serta mencari solusi dari berbagai permasalahan. Sederhananya menggunakan ilmu apapun untuk mengkaji permasalahan tidak terpaku pada satu dimensi. Misalnya, isu gender tidak saja dilihat dari sudut pandang ilmu sosial, tapi juga bisa diuji dengan ilmu ekonomi, atau pendidikan kritis dll. Pisau analisa yang dipakai bisa menggunakan berbagai macam pendekatan yang relevan. Kurang lebih seperti itu. 

Ini kelebihan karena pendekatan ini menyadari bahwa satu isu atau sebuah permasalahan itu mestinya memang multi dimensi yang harus dikaji juga dengan berbagai perspektif dan disiplin ilmu. Ini juga yang menjelaskan mengapa di kelas saya yang sekiranya satu angkatan itu ada kurang lebih 10 orang, fokus kajiannya berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Saya dan teman saya Dareen dari Palestina memfokuskan diri pada kajian isu-isu kesehatan, meskipun titik tumpu kajian saya lebih kepada studi kebijakan publik. Sementara temen saya yang lain mengkaji isu energi, isu ekonomi dan pekerjaan, kesetaraan jender, olahraga dan pembangunan, pembangunan komunitas dan lain sebagainya. 

Sedikit banyak, pendekatan ini sebetulnya agak mirip dengan program S1 saya di UIN Syarif Hidayatullah meskipun mungkin masih dalam rumpun studi agama islam. Di FDI UIN dulu yang biasa disebut Program Studi Islam komprehensif, mencoba menggabungkan pendekatan teologis (ushuludin), dengan jurisprudensi (syariah/fiqh), dengan literature (adab/sastra) yang di fakultas lain lebih fakus ke masing-masing. Meskipun dulu, jurusan saya di UIN itu pernah dikritik juga oleh Prof. Komarudin Hidayat karena dianggap kurang fokus, sehingga mahasiswa di dalam tetap harus mengambil/menentukan konsentrasi kajian misalnya tafsir, fiqh, ushul fiqh, adab atau pendekatan lain. 

Mencoba Membangun Fokus Keahlian

Nah memang pada akhirnya salah satu yang harus dilakukan oleh mahasiswa, ketika masuk ke dalam program interdisipliner ini adalah mencoba memfokuskan kajian sehingga tidak bingung. Tidak bingung saat mau lulus dalam jangka panjang, atau dalam jangka pendek saat shopping mata kuliah di setiap semester. Di jurusan saya, satu angkatan yang bersepuluh itu, hanya diwajibkan mengambil 3 core, ya semacam MKDU nya jurusan saya yaitu Fundamental of Development, World Economic Geography dan Politics of Developing Areas. 

Sisanya diluar itu mahasiswa bisa memilih rumpun Development Core (8 credit), Methods (8 credit), dan Konsentrasi (20 credit) yang ke semuanya memberikan banyak sekali pilihan sehingga kami yang satu angkatan tidak mesti satu kelas di 36 Credit sisanya (sekitar 12-14 mata kuliah) atau di sisa 3 semester yang di jalani. Dan saya ingat pesan Profesor Kendhammer dan profesor lain, bahwa perjalanan belajar di paskasarjana itu pada akhirnya adalah proses pembelajaran pribadi yang ditentukan oleh sebagian besar oleh keputusan dalam meramu pilihan-pilihan mata kuliah yang akan membentuk eskpertise yang akan didapatkan. 

Pentingnya Study Objective

Dan satu hal yang saya lakukan saat memilih dan memulai kuliah adalah kejelasan apa yang ingin saya pelajari di awal. Bahwa fokus belajar saya yang paling utama adalah memahami studi kebijakan publik yang saya fokuskan kepada studi kebijakan kesehatan. Juga untuk metodologi yang saya cari secara khusus waktu itu adalah Cost Benfit Analysis yang saya kejar karena pengalaman di advokasi pengendalian tembakau dimana industri rokok selalu memakai argumentasi ekonomi dalam setiap perdebatannya. 

Kejelasan dalam tujuan belajar ini, menurut saya sangat penting bagi siapapun yang akan lanjut sekolah ke paskasarjana. Ini juga mungkin yang menjadi alasan mengapa dulu pas seleksi beasiswa Fulbright juga seleksi beasiswa yang lain mensyaratkan calon penerima untuk membuat essay Study Objective untuk melihat apa saja yang akan dipelajari dalam satu program tertentu. So, siapapun yang lagi bikin aplikasi beasiswa, buat proposal studi ini sangat penting untuk perjalanan dan proses belajar di kemudian hari, bukan sekedar syarat seleksi ya. 

Belajar di Luar Negeri Dapat Banyak Perspektif

Hal lain yang ingin saya sampaikan juga adalah betapa beruntungnya bisa kuliah di luar negeri dalam program ini karena mendapatkan perspektif yang beragam. Di Amerika Serikat, terutama di jurusan humaniora dan ilmu sosial, kebanyakan mahasiswanya adalah warga negara internasional. Seperti di jurusan saya, dari 10 orang yang belajar di IDS dalam satu angkatan hanya satu orang AS asli. Sisanya berasal dari mancanegara, yang tentunya akan membawa perspektif internasional dengan konteks budaya dan ekonomi yang berbeda-beda. 

Ini adalah salah satu kelebihan yang jarang di fahami, seperti juga yang tidak disadari dengan kelebihan budaya meraantau, budaya imigran dan perbedaan latar belakang. Karena semakin heterogen sebuah kelas maka perspektfinya akan semakin kaya, apalagi jika kelas itu sangat menghargai dan memberikan ruang yang sangat luas untuk setiap ekspresi bisa disampaikan. Tanpa disadari kita bisa menjadi orang yang lebih memiliki wawasan lebih luas dan global. 

Belajar di Jurusan Gado-Gado dengan orang yang 'Gado-Gado'

Sementara itu dulu yang bisa saya share. Saya sangat bersyukur bisa belajar di jurusan interdisiplin di IDS-OU karena memungkinkan saya mendapatkan perspektif yang luas dengan berbagai macam pilihan metodologinya dan kosentrasinya. Juga dengan berkuliah di situ juga punya banyak sekali teman dari berbagai negara yang semakin menambah perspektif. 

Semoga bermanfaat dan saya doakan semuanya sehat-sehat di tengah pandemi COVID-19. Dan bagi mereka yang sedang berjuang untuk lanjut sekolah, didoakan semoga lancar. Doa untuk saya juga. 

Sampau jumpa di enrti selanjurtnya.

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung