Cukupkah kita mengajarkan budaya bebas bully? Saya kira ada satu lagi yang harus kita ajarkan yaitu resiliensi atau ketangguhan menghadapi hidup.



Semua sepakat bahwa kita harus mendukung kampanye anti bully. Banyak kita melihat kampanye-kampanye buday anati bully secara kultural dengan mempromosikan budaya tanpa kekerasan. Kampanye juga bisa dengan pendekatan hokum, misalnya melalui aturan bagi anak di sekolah dengan membuat aturan atau regulasi untuk menghindari proses bully mem-bully.

Namun sejatinya kita tidak menghindari bully atau mengharapkan sebuah dunia yang bebas dari bullying. Selama masih ada perbedaan otoritas, perbedaan posisi tentu selalu ada potensi terjadinya bullying baik secara sengaja atau tidak sengaja.

Ada satu konsep yang menurut saya perlu juga dikampanyekan yaitu konsep anak tangguh atau istilah resiliensi. Resiliensi biasanya dipahami sebagai kemampuan seorang atau kelompok masyarakat untuk menerima apapun yang tidak ideal dan kemampuan mampu bangkit dan maju lebih tinggi.

Konsep resiliensi ini menyadari bahwa pada akhirnya kita tidak akan bisa menghindarkan dari bahaya bully dan harus menghadapinya. Yang terpenting adalah kita mampu untuk bangkit dan mengahadapinya dengan positif. Fokus resiliensi adalah pada ketahanan diri sendiri, yaitu kemampuan untuk selalu bangkit dari keterpurukan.

Maka dalam hal ini, sebagai orang tua selain Kita mendorong upaya untuk mempromosikan budaya bebas kekarasan agar anak tidak menjadi pelaku namun juga memiliki ketangguhan untuk menghadapinya. Namun resiliensi juga tidak akan dicapai kalau kita juga tidak mengajarkan anak atau mencontohkannya.

Konsep resiliensi seorang anak akan sangat terkait dengan konsep diri, kemampuan dan pengalaman yang dia alami di dalam keluarga. Pemenuhan kasih sayang orang tua akan berpengaruh terhadap kepercayaan diri anak dan kemampuannya menerima banyak hal di dalam hidup.

Post a comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung