Beberapa waktu yang lalu tulisan Pa Sarlito Wirawan di Koran Tempo tentang Manusia Indonesia menjadi viral dan dibagikan di lini masa terutama di platform whatsapp. Tulisan ini memang timely karena ditulis pada saat yang tepat, pada momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, dan dengan tema yang sangat menarik yaitu tentang analisa terhadap karakter manusia Indonesia. Pa Sarlito juga mengaitkan kondisi negara ini dengan negara-negara lain dan tantangan masa depan yang akan dihadapinya. Jika anda belum baca tulisannya silahkan kunjungi link asli tulisan beliau di koran tempo atau di notes facebook saya. 

 PKI vs PKE

Analisa pa Sarlito Wirawan bertumpu pada kesimpulan beliau bahwa manusia Indonesia itu cenderung memiliki fokus pada luar dirinya (Pusat Kendali Eskternal / PKE). Dimana orang dengan kecenderungan ini lebih suka mengaitkan apa yang terjadi dengan apa yang ada diluar dirinya dan tidak berfokus pada dirinya. Sehingga sering menyalahkan orang lain dan tidak fokus untuk memperbaiki diri sendiri. Salah satu gejalanya adalah kebiasaan untuk menuntut atau menyalahkan pihak lain lebih besar daripada kepada dirinya. Rakyat terlalu menuntut pemerintah, sementara pemerintah berdalih dengan alasan ini itu dst.

Sikap terlalu menuntut kepada pihak lain tentu bukan sifat yang dapat mendorong orang lebih maju dan berkembang. Karena pada saat yang sama meletakkan tanggung jawab lebih kepada faktor luar tidak bertumpu kepada diri sendiri. Karena dari contoh negara lain (seperti dialami Korea) mereka bisa maju karena cenderung fokus pada dirinya sendiri (Pusat Kendali Internal / PKI) dan memaksimalkan apa yang bisa dilakukan sehingga bisa mengontrol keadaan yang diluar dirinya. Secara tidak langsung diperbandingkan bahwa meskipun Indonesian dan Korea sama-sama bekas penundukkan Jepang dan baru merdeka tahun 1945, namun nasib kedua negara berbeda dengan sangat signifikan. 

Korea saat ini menjadi salah satu kekuatan negara maju di Asia, dalam banyak hal mampu menyaingi bahkan melampaui Jepang. Sementara Indonesia yang memiliki start yang sama, masih jauh tertinggal dari kedua negara ini. (Soal keberhasilan Korea menandingi dan melampaui Jepang bisa dibaca juga di tulisan mas Yodia Antariksa tentang SAMSUNG, the Death of Samurai). 

Analisa soal PKE vs PKI ini sebetulnya agak mirip dengan tips dari Stephen Covey dalam buku Seven Habits nya yang terkenal itu. Covey menyarankan bahwa seseorang jika ingin menjadi pribadi yang efektif sebaiknya memperbesar Circle of Influence dan memperkecil Circle of Cencern. Circle of Concern adalah segala hal yang terjadi diluar kendali dan keinginan kita seperti sikap dan reaksi orang terhadap apa yang kita perbuat, suka dan tidak suka, kondisi cuaca yang tidak bersahabat, bencana alam dst. Sementara Circle of Influence adalah segala hal yang bisa kita kontrol seperti reaksi kita terhadap kondisi yang ada, positif atau negatif, optimis atau pesimis, menyerah atau berjuang dst. 

Berfokus pada circle of concern kadangkala hanya memberikan perasaan sesak dan rasa dongkol. Karena seperti pepatah orang mengatakan bahwa di dunia ini banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, the world is a great disappointment. Sementara jika fokus pada apa yang bisa dilakukan maka itu akan memberi energi lebih untuk selalu menyikapi segala sesuatu dengan positif, penuh optimisme dan tentunya menuju ke arah kemajuan. Berfokus pada diri sendiri berarti juga berusaha menantang Zona Nyaman kita dan terus melakukan perubahan ke arah yang positif. 

Golden Moment Bonus Demografi

Tentu keadaan ini jika memang benar adanya bahwa banyak bangsa kita yang fokus pada eksternal (PKE) bukan fokus pada dirinya (PKI) maka ini adalah sebuah alarm. Karena seperti yang disampaikan pa Sarlito, di depan kita ada peluang emas yang semestinya dinikmati oleh Indonesia yaitu Bonus Demografi yang bisa menjadi pendorong Indonesia untuk bersanding bahkan menyaingi negara-negara maju di muka bumi. Pada masa 20 tahun ke depan penduduk Indonesia yang produktif akan lebih banyak jumlahnya daripada penduduk yang sudah tidak produktif. Sederhananya bangsa ini akan memiliki anak muda lebih banyak daripada orang tua. Sehingga anak-anak muda ini akan menanggung lebih sedikit orang daripada yang ditanggung generasi produktif saat ini. 

Namun tentunya momentum bonus demografi ini akan tidak dapat dinikmati dengan maksimal jika generasi mudanya lemah dan kurang kuat karakternya. Pembangunan bangsa Indonesia sejatinya harus betumpu kepada pembangunan Sumber Daya Manusia dnegan menargetkan kualitas manusia yang unggul dalam banyak hal. Baik itu dari segi kecerdasan maupun secara mental. Dengan begitu maka bonus demografi pasti akan bisa dinikmati.

Saat ini saja ekonomi Indonesia sudah sangat maju karena pertumbuhan ekonomi tidak bertumpu ke luar namun kepada konsumsi dalam negeri. Banyaknya penduduk saja sudah jadi berkah, apalagi jika penduduk yang banyak ini menjadi sehat, berkualitas dan memiliki mental yang kuat dan tahan banting. Sebagai konsumen saja kita bisa digdaya bahkan bisa masuk ke negara-negara perekenomian kuat seperti G-20. Namun tentunya ini belum cukup jika kita tidak terus berbenah. 

Are you Part of Solution or Part of Problem?

So saatnya kita fokus pada diri sendiri. Apapun profesi dan fungsi yang kita jalankan mari kita lakukan dengan sebaik mungkin. Jangan terlalu banyak menuntut kepada pemerintah, politisi dan apalagi bergantung kepada kekuatan lain. Kemajuan Indonesia ditentukan oleh segenap rakyatnya, terutama kelas menengah yang terdirik dan menginspirasi. Jika kita tidak memberikan solusi maka tidak elok jika menambah masalah. 

Bangsa yang mandiri, tidak akan terwujud tanpa warga-warganya yang mandiri.

gambar dari sini

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung