Ads (728x90)

“If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it.” * 
Jika anda mengatakan kebohongan dengan baik dan secara terus menerus, orang pada akhirnya akan percaya

Sesuatu yang salah jika dilakukan secara terus menerus akan terasa benar. Begitu lah korupsid digambarkan,saking biasa dan dilakukan secara berjamaah ia dianggap sebagai hal yang lumrah. Begitulah kondisi Hongkong pada antara tahun 60-70-an yang digambarkan dalam film ICAC (I Corrupt All Cops) sebuah film produksi Hongkong tahun 2009.

Korupsi adalah praktek yang lumrah dan dilakukan oleh semua orang di Hongkong pada waktu itu. Saking lumrahnya, bahkan praktek korupsi dikoordinir dan dimanage sedemikian sehingga ‘hasil keuntungan’ dapat dibagi dengan aman. Hampir semua institusi melakukan korupsi, dari kepolisian hingga pengawas praktek korupsi pun melakukan praktek serupa. Semua bisa diatur dengan uang, uang berbicara lebih fasih.

Praktek korupsi yang merajalela, bahkan telah membuat keadilan menjadi sebuah impian. Dalam sebuah adegan ditunjukkan bagaimana sebuah kasus pembunuhan dapat diselesaikan di jalan hanya dengan segepok uang untuk menyumpel aparat polisi (adegan pembuka). Bong (Lik-Sun Fong), seorang mahasiswa Universitas Hongkong yang menolong seorang pengendara sepeda yang jatuh, harus babak belur dihajar dan dipenjarakan hanya karena teriakan ‘maling’. Ia dipukuli dan dihajar tanpa ampun, dan baru dibebaskan ketika Gold (Jing Wong), seorang makelar penghubung para bos mafia dan polisi dimohon oleh pamannya untuk membebaskan dirinya.


Dalam keadaan seperti ini, rakyat jelata yang menjadi korban. Aparat yang semestinya melindungi dan mengayomi masyarakat, malah menjadi sumber kesengsaraan rakyat. Dalam film ini digambarkan bagaimana Lak Chu (Tony Leung) seorang pimpinan polisi bukan menjadi abdi masyarakat, malah menjadi backing bandar judi dan pengedar narkoba bahkan melakukan kejahatan terhadap rakyatnya sendiri. Dalam ‘neraka’ seperti itu uang berbicara lebih fasih daripada hati nurani. Jing Wong yang juga sutradara film ini, menggambarkan kekacauan ini dengan baik bahwa kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.

Jing menceritakan beberapa plot dalam film ini. Satu plot menceritakan pertarungan antar sindikat koruptor yang terdiri dari oknum aparat polisi dan mafia melawan ICAC (Independent Commission Against Corruption). Digambarkan dengan baik bagaimana para komisioner ICAC yang dibentuk untuk memberantas korupsi kewalahan dalam melakukan tugasnya. Inspektur Yim (Bowie Lam) sebagai pimpinan ICAC harus bekerja keras untuk menjaga mimpi mewujudkan Hongkong yang bersih dari korupsi. Pada awal kerjanya banyak sekali komisioner ICAC yang mengundurkan diri atau bahkan gila karena teror dari para koruptor yang tidak senang dengan keberadaan KPK-nya hongkong ini.

Perjuangan memerangi korupsi pada akhirnya adalah sebuah perjuangan moral yang memerlukan pengorbanan, sebuah revolusi untuk mengubah budaya masyarakat yang harus ditebus dengan komitmen yang kuat bahkan nyawa. Salah satu pesan inspektur Yim kepada para komisioner ICAC adalah bahwa ini sebuah revolusi dan mereka harus siap dengan teror dan pengucilan dari masyarakat. Bahkan Yim pada akhirnya harus mati ditabrak koruptor.

Namun demikian sebetulnya seburuk apapun keadaan selalu ada harapan. Dalam kebejatan moral sekelompok manusia, hati nurani tidak bisa dibunuh dan akan terus berteriak untuk mengingatkan kita untuk memilih jalan yang benar. ICAC pada akhirnya memenangi pertarungan dan mampu memiminalisir koruspi di Hongkong.

Film ini sangat inspiratif bagi bangsa kita yang sedang berjuang untuk memperbaiki moral, salah satunya tentang korupsi. Pengalaman ICAC yang digambarkan dalam film ini bisa menjadi inspirasi KPK dalam melaksanakan tugasnya. Bisa kita lihat sejak Indeks Persepsi Korupsi dikeluarkan oleh Transparency International, Hongkong selalu lebih baik dari Indonesia yang sering jadi juara paling bawah dalam hal persepsi korupsi. Tahun 2010, Indonesia menempati rangking 110 jauh dibawah Hongkong yang menempati peringkat 13.

Dari pengalaman ICAC yang digambarkan dalam film ini, syarat utama dari keberhasilan adalah komitmen dari manusianya. Kualitas dari komisioner, keteguhan, kecerdikan, tekad dan tentunya dukungan politis dari penguasa serta dukungan dari masyarakat adalah kunci dari keberhasilan itu. Film ini menarik bukan hanya karena temanya yang cocok dengan kondisi bangsa kita yang babak belur sama korupsi, namun juga kisah-kisah dan pengemasan dari film ini pun cukup menghibur. Saya secara pribadi berharap film ini bisa diputar di salah satu stasion TV nasional kita untuk menginspirasi bahwa kita bisa bebas dari korupsi.

*Pernyataan Jozep Goebbels, Menteri propaganda Jerman pada masa NAZI.

download filmnya disini, subtitile atau CD 1CD 2, subtitle


Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung