Ads (728x90)




Dalam hidup ini ada banyak sekali hal yang tidak bisa kontrol, dan mungkin dari banyak hal itu tidak kita sukai. Dari mulai hujan yang turun tanpa kita kehendaki, sikap dan persepsi orang yang pasti tidak bisa diatur hingga daun yang tiba-tiba jatuh menutup mata saat naik motor.

Di era medsos ini hal itu itu bisa jadi adalah timeline medsos yang memuakkan dan ngeselin. Seringkali itu membuat kitab jengah dengan status sampah dan informasi yang tidak relevan membanjiri timeline kita. Tidak jarang semua itu membuat mood berantakan seharian. Hari menjadi tidak produktif.

Namun sayangya kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah semua itu, karena berada di luar kendali kita. Yang bisa dilakukan adalah mengontrol sikap kita dalam merespon situasi itu. 

 
Saya teringat karya Stephen Covey dan Tim Ferris. Keduanya penulis buku best seller soal produktifitas yang sudah 'kakoncara ka janapria'. Buku Covey "The Seven Habits for Highly Effective People" dan buku Tim Tim Ferris "Four Hour Workweek" rasanya menemukan relevansi tingkat tinggi saat ini. Ada dua bagian dari dua buku itu yang menarik dan bisa membantu kita tetap waras di tengah involusi informasi yang mengancam produktifitas seperti saat ini.

Pertama, dalam buku Seven Habits Stephen Covey memformulasi 7 kebiasaan yang bisa membuat kita jadi pribadi yang produktif. Salah satu kebiasaan yang menjadi dasr itu adalah bersikap proaktif (kebiasaan pertama). Covey kurang lebih menjelaskan bahwa dalam hidup ini ada dua lingkaran besar yaitu lingkaran pengaruh (circle of influence), kedua lingkaran keprihatinan (circle of concern).

Lingkaran pengaruh adalah segala sesuatu yang bisa kita atur dan kendalikan. Contohnya adalah mood dan pilihan langkah yang kita ambil dalam menyikapi suatu keadaan. Kita sepenuhnya memiliki kontrol terhadap sikap dan perilaku kita dalam melihat dan merespon peristiwa apapun. Sementara lingkaran keprihatinan adalah segala hal yang sama sekali tidak bisa kita pengaruhi karena berada diluar diri kita. Contohnya adalah fenomena alam dan sikap serta opini dan orang lain terhadap kita.

Bagi Covey supaya produktif maka kita harus memperbesar lingkaran pengaruh dan memperkecil lingkaran keprihatinan. Maksudnya memfokuskan diri pada hal yang ada dalam kendali kita dan selalu berpikir positif itu akan membuat kinerja kita lebih baik. Maka peduli pada banyak hal itu bagus, namun perhatian tetap fokus pada hal-hal yang kita bisa lakukan dan beri kontribusi.

Produktifitas bisa jadi akan turun jika kita terlalu fokus pada sesuatu yang jauh dari relevansi kehidupan kita secara langsung dan lupa pada diri sendiri. Jika terjebak dalam kondisi seperti itu maka secara mood dan emosi yang akan muncul adalah kegalauan, kekesalan dan nuansa yang negatif. Pada akhirnya hati menjadi dongkol dan bisa berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan jiwa. Ini sangat bisa terjadi di era medsos seperti sekarang. Bukan berarti kita tidak peduli pada keadaan sekitar tapi fokus pada apa yang bisa dilakukan itu lebih penting.

Maka itu pula kenapa bersikap proaktif salah satunya dengan fokus pada apa yang bisa kita kerjakan dan selalu berpikir positif menjadi dasar dari 6 kebiasaan lain yang bisa membantu produktifitas seseorang.


Sementara itu Tim Ferris menulis buku yang juga cukup fenomenal dalam dunia pengembangan diri. Dia menulis buku "Four Hour Week" yang menyingkap strategi untuk tetap produktif meski hanya kerja 4 jam dalam seminggu. Ia menulis buku ini berdasarkan pengalamannya dalam menaklukkan berbagai tantangan dalam hidupnya.

Ferris merumuskan 4 prinsip hidup yang bisa membuat orang lebih produktif dengan 4 cara yaitu mengubah cara pandang, fokus pada hal yang penting, delegasi tugas yang efektif dan nikmati kebebasan dalam hidup yang dirangkum dalam akronim DEAL (Definition, Elimination, Automation, Liberation).

Nah huruf E (Eliminiation) dalam prinsip Ferris ini adalah salah satu yang menarik soal menjaga fokus pada hal produktif. Ferris menyarankan kita fokus pada hal tertentu yang memberi imbal balik paling besar daripada melakukan banyak hal tapi tidak efektif. Ia mengadopsi prinsip ini dari prinsip Pareto dimana 80% pencapaian kita dalam hidup ini sebetulnya dicapai oleh 20% usaha yang dilakukan.

Makanya perlu selektif dalam melakukan hal-hal yang memang benar-benar berarti dan memberikan hasil positif dalam hidup ini. Dan menurut Ferris itu bisa didapatkan salah satunya dengan melakukan pemilihan dan menentukan prioritas apa dan mana yang paling baik untuk mendapatkan porsi perhatian dan kinerja kita. Dia menawarkan bahwa seorang individu harus berlatih dan bisa menerapkan yang dia sebut sebagai selective ignorance (pengabaian selektif).

Ya sederhananya selalu belajar untuk serius pada hal-hal positif dan produktif dan abai terhadap hal yang tidak penting atau remeh temeh. Dengan prinsip ini dan prinsip orang lain, sebetulnya setiap orang bisa menghemat 30% - 70% waktunya untuk difokusan pada hal yang lebih bermanfaat. Dari sinilah sebetulnya ide dasar bahwa dalam seminggu cukup dengan 4 hari kerja bisa mengcover kehidupan selama seminggu.

Nah dua hal ini (mempebesar lingkaran pengaruh dan selective ignorance) adalah salah satu kunci untuk bisa lebih produktif dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa agama Islam, dua prinsip ini sebetulnya mirip dengan anjuran untuk meninggalkan lago (meninggalkan hal-hal yang tidak berguna). Orang Islam dianjurkan meninggalkan berbagai hal yang tidak memberi manfaat, apalagi menimbulkan madharat.

So, mau hidup lebih produktif? kemampuan untuk berpikir positif, fokus pada solusi dan menghindari hal yang tidak berguna adalah salah satu upayanya. Mari sama-sama mencoba dan terus berlatih.

Salam



gambar dari sini

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung