Ads (728x90)


Rute yang harus ditempuh dari Doha ke Washington

Melancong ke negeri orang memang selalu memberikan pengalaman yang berbeda. Berkunjung ke negara yang berbeda memberikan kita perspektif yang lebih luas tentang seperti apa dunia di belahan dunia lain dengan latar belakang budaya, geografi dan kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Dan untuk urusan kunjung-mengunjung ke negeri orang aku patut bersyukur. Karena secara relatif telah diberikan kesempatan untuk melakukan hal tersebut. 

Meski tidak terlalu sering, alhamdulillah sejak tahun 2007 nyaris hampir setiap dua tahun sekali diberikan bkesempatan untuk bertandang ke negeri orang. Dimulai ke Australia tahun 2007, Singapore 2009, Bangkok 2011 dan 2012 dan kini 2013 aku ke negeri Paman Sam, USA. Mungkin kalo mau disebut boleh lah diabsen Malaysia dan Qatar, dua negara ini ya lumayan bonus, meskipun hanya sampai bandara karena untuk sekedar transit tapi kondisi negara tersebut bisa sedikit terbayang dari gerak gerik dan tingkah laku orang-orangnya yang aku temui di Bandara. 


Pada awalnya sama sekali tidak terbayang bisa terbang jauh ke negara-negara itu. Namun namanya nasib, tanpa uang pribadi sepeserpun pun aku bisa menyambangi beberapa belah dunia itu dari kegiatan di organisasi dan di tempat kerja. 

Untuk tahun ini perjalanan keluar negeri aku mulai dengan berkunjung ke Baltimor USA, pada awal Juni 2013 untuk program kursus advokasi selama 2 minggu. Pengalaman pertama tentunya persiapan dalam perjalanan kesananya. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya ke non ASEAN, waktu ke Australia semua persiapan teknis dibantu oleh kedutaan Aussie. Sehingga kita tidak repot untuk mengurus visa perjalanan ke luar negeri. Waktu ke ASEAN juga tidak rumit, karena negara-negara ASEAN memiliki kerjasama dalam hal keimigrasian, sehingga waktu ke Singapore, Thailand dan singgah di Malaysia, tidak ada kesulitan mengenai visa, karena memang di ASEAN kita tidak perlu visa. Karena mudahnya, aku jadi tidak tahu cara mengurusnya. Untuk perjalanan ke AS ini, visa harus diurus sendiri, daftar secara online mengikuti proses wawancara, menyiapkan berkas dan lain sebagainya. 

Dari pengalaman seperti ini, kita jadi tahu betul apa arti teritori, perbatasan dan kedaulatan sebuah negara. Tidak semua orang bisa dengan sembarangan masuk ke negara lain tanpa ijin. Jika ada yang melakukan itu maka itu adalah bagian dari violation to the law, alias melanggar hukum. Dan dalam konteks ini, visa lah yang harus didapatkan untuk berkunjung ke negara-negara itu. Dan sekedar informasi untuk ka AS visa itu dibagi ke tiga bagian yaitu visa kunjungan, visa belajar atau visa imigrasi. 

Dan kalo dalam urusan ini, Paman Sam terkenal superketat soal visa. Mungkin karena Amerika merupakan salah satu negara tujuan utama di dunia. Sehingga setiap tahun ada beribu orang yang hendak berkunjung ke amerika baik untuk bisnis, pendidikan atau mungkin mencari peruntungan lebih baik dengan menjadi imigran ke negeri itu. Dalam perjalanan Doha ke Washington, teman yang duduk bersebelahan denganku adalah seorang Afghanistan yang sudah tinggal di AS selama 5 tahun. Dan bagi mereka sudah diberi surat ijin sementara tinggal atau green card. 

Untuk melakukan seleksi ketat, maka setiap orang yang ingin berkunjung ke Amerika harus melalui berbagai pemeriksaan ketat sebelum mendapatkan ijijn datang ke negara itu. Persyaratan untuk mendapatkan visa Amerika sebetulnya tidak terlalu sulit, sepanjang kita memiliki identitas pribadi yang lengkap dan memiliki tujuan perjalanan yang jelas maka visa amerika bisa didapatkan. Meskipun ada juga yang mengalami kesulitan, sehingga harus menunggu beberapa minggu untuk bisa berangkat, bahkan ada yang sama sekali tidak bisa berangkat. Namun secara prosedural, persyaratan yang diminta tidak ada yang sulit untuk dipenuhi. 

Mengejar Matahari
Mengjar matahari, itu ungkapan yang cukup mewakili suasana perjalananku menuju negeri Paman Sam. Perjalanan menuju Amerika Serikat yang tepat berada di belakang belahan lain dari bumi pertiwi adalah perjalanan mengitari setengah bola dunia. Untuk sampai ke Amerika Serikat yang berada di benua Amerika, kami harus berangkat mengitari bola bumi dengan terbang ke arah barat dan mengejar matahari yang tenggelam di arah itu. Laksana seorang kekasih yang tidak ingin berpisah dengan belahan hatinya, perjalanan menuju paman Sam adalah perjalanan mengejar Matahari menuju tempat ia terbenam dengan melewati semua benua. Kami berangkat dari Cengkareng dengan pesawat Qatar Airways menuju Doha, Qatar. Dalam perjalanan yang menghabiskan 7,5 jam di atas pesawat kami terbang melewati Malaysia, Thailand, India, kemudian menuju ke Timur Tengah untuk mendarat di Doha, Qatar. 

Makanan di Penerbangan Qatar Airways


Dalam perjalanan ini kami jumpai banyak sekali jemaah Indonesia yang hendak umroh berangkat melalui Doha, Qatar. Perjalanan dalam Qatar Airways cukup menyenangkan. Pesawat besar, pelayanan ramah dan makanan yang cukup lengkap, bisa didapat di atas pesawat. Dalam perjalanan ini setengah benua terbesar, Asia, kami lewati melalui udara. Tidak ada perbedaan waktu yang terlalu jauh dari Indonesia ke Qatar, dari perjalanan ini tergambar betapa waktu adalah konsep yang sangat relatif dan ditemukan manusia untuk sekedar menandai masa. 

Berangkat dari Jakarta pukul 1 pagi, selama 7,5 jam kami mendarat di Doha Internasional Airport pukul 4 pagi. Ada selisih waktu 3,5 jam. Matahari baru terbit beberapa menit kala itu, dan di sejauh mata memandang, betapa pasir mengelingi sekitar. Namun manusia mampu mengubah dan menambahnya dengan berbagai fasilitas sehingga keringnya gurun pasir tidak menghalangi kenyamanan disana. Sampai saat ini sinar matahari bisa dikejar. 

Transit di Bandara internasional Qatar yang mewah, kami harus transit melalui bus bandara Cobus untuk sampai ke terminal pemberangkatan. Bandara Doha sangat luas, tempat pesawat mendarat terletak cukup jauh dari terminal kedatangan dan keberangkatan. Sehingga setiap penumpang yang turun dari pesawat harus menggunakan bus transit untuk bisa sampai ke terminal selanjutnya. Bus melewati beberapa terminal, ada terminal kedatangan bagi mereka yang akan turun di Doha sebagai tujuan akhir perjalanan. Bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain harus turun di terminal selanjutnya yaitu di Terminal transit dan keberangkatan. 

Di terminal inilah bagi mereka yang akan berangkat dari Doha ke negara lain dan kami yang transit melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan. Jemaah umroh yang hendak pergi ke Mekkah turun disini melanjutkan perjalanan ke mekkah. Sementara kami yang kea rah barat menunggu beberapa jam sebelum cek in ke pesawat selanjutnya.

Waktu transit di Doha adalah 3 jam. Selama waktu itu, kami gunakan untuk shalat shubuh, cuci muka dan wudhu serta mengisi kembali baterai handphone dan laptop yang habis saat di udara. Bandara Doha menyediakan tempat khusus bagi mereka yang ingin mengecharge alat elektroniknya. Namun disini mulai terasa “bedanya” kita melakukan perjalanan ke luar negeri. Ada standar peralatan elektronik yang berbeda. Jika di Indonesia hampir semua alat elektronik disambungkan dengan sumber listrik memakai double socket atau dua colokan bulat maka di Doha sudah memakai tripin socket, colokannya ada tiga seperti colokan AC. Maka ini mungkin tips pertama bagi para travellers, jika berangkat keluar negeri harus bawa travel adaptor sehingga tidak mengalami kesulitan saat harus menggunakan listrik untuk mengecharge barang elektronik. 

Transit 3 jam di Doha, baru terasa bagaimana panasnya gurun pasir saat boarding menuju pesawat kedua menuju ke Washington DC. Saat mau naik pesawat matahari timur tengah menyengat kulit saat kami melintasi garbarata dan tangga menuju pesawat, panas pasti, 45 derajat Celsius, 10 derajat lebih panas daripada temperatur Jakarta. 

Dari Doha kami langsung menuju Washington DC. Perjalanan yang sangat panjang, 17 jam perjalanan di udara. Melalui udara dari Doha kami mengarah terbang melalui benua asia tepatnya di Timur Tengah, terbang terus menuju ke eropa melelwati Amsterdam, beberapa kota di peta perjalanan kedengaran cukup familiar, Helsinki, dan lain sebagainya. Untuk membunuh waktu dalam perjalanan 4 film berhasil di tonton. Dan mulai terasa perbedaan waktu. 17 jam perjalanan yang ditempuh semuanya dalam keadaan siang mentrang mentring. 

Berangkat pukul 8 pagi dari Doha kami sampai di Washington DC pukul 3 sore. Tubuh yang meminta istirahat tidak bisa dipejamkan. Badan lemas dan lesu mungkin ini yang dinamakan jetlag. Jam Circadian di dalam tubuh mengatakan ini sudah malam di Indonesia, namun terik matahari yang masih terang dan suasana siang di sekitar masih menunjukkan siang di Amerika. 

Dari DC kami menuju Baltimore dengan bis milik Universitas John Hopkins dan matahari baru terbenam saat waktu menunjukkan pukul 8 malam. Musim panas memberikan waktu siang lebih panjang di daerah-daerah yang berada di utara katulistiwa. Waktu shalat juga berubah menyesuaikan waktu lokal. Shubuh jam 4 pagi, dhuhur jam 1, ashar jam 5, magrib jam 8.30 dan isya jam 10 malam. 

Perjalanan yang cukup menyenangkan dan melemaskan. Semoga dalam dua minggu ke depan banyak pengalaman yang bisa didapatkan untuk meningkatkan kemampuan diri dalam beraktifitas.

Baltimore, 3 Juni 2013

Akhirnya Sampai juga di Kamar, unpack your load


Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung