Gandhi bukanlah nama yang asing bagi para pejuang non-violence action. Konsepnya yang ‘beda’ dan genuine membuat namanya sangat terkenal sebagai salah satu tokoh kemanusiaan abad 20. 59 tahun lalu, tepatnya 30 Januari 1948, lelaki India berkacamata yang terkenal dengan rambut plontos memakai kain seadanya ini meninggal dibunuh oleh seorang hindu fanatik Nathuram Godsey. Namun perjuangan dan ajarannya tetap abadi dan membekas di sanubari masyarakat dunia khususnya para pembela kebenaran tanpa kekerasan.

Kita generasi yang lahir tahun 80-an lebih mengenal Ghandi sebagai nama sekolah atau tokoh India. Padahal sejarah hidup Gandhi adalah bukti nyata dan warisan sejarah dunia yang sangat berharga tentang arti sebuah perdamaian. Ajarannya tentang kemandirian, keteguhan mampu mengusir penjajah dari tanah India. Dengan perjuangan dan keteguhannya Gandhi membuktikan bahwa kekerasan dapat dibalas dengan non-kekerasan. Ia meyakini bahwa kekerasan yang dilawan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan lainnya.
Mohandas Karamchand Gandhi lahir pada 2 Oktober 1969 di Porbandar, sebuah kota kecil di pantai barat India yang merupakan bagian negara bagian Kathiawar. Gandhi lahir dari keluarga kelas menengah kasta waisa, kakeknya adalah seroang perdana mentri Porbandar yang selanjutnya diteruskan oleh anaknya, Karamchand, ayahnya Gandhi. Ibunya Putlibai adalah pribadi yang tulus, lembut dan memberi kesan yang sangat mendalam dalam diri Gandhi.


Semasa sekolah di tingkat dasar sampai tingkat menengah, Gandhi bukanlah termasuk siswa yang cerdas. Gandhi kecil adalah siswa yang mengalami kesulitan belajar, pemalu dan seorang medioker.
Suatu cerita mengatakan bahwa ia pernah dibohongi seorang temannya bahwa orang Inggris bisa berkuasa karena mereka makan daging. Gandhi kecil yang sangat polos percaya begitu saja dan mencoba memakan daging. Peristiwa ini selanjutnya menjadi sesuatu yang ia sesali, karena sebagai seorang vegetarian memakan daging adalah sesuatu yang salah.

Ia menikah pada umur tiga belas tahun. Umur yang sangat muda, dimana ia mengaku bahwa pada usia itu pernikahan baginya hanya sekedar hajatan dan keramaian keluarga. Selanjutnya ia tidak setuju tentang budaya pernikahan anak kecil.

Pada 1889 ia berangkat ke Inggris dalam umur delapan belas tahun. Perjalanan inilah yang menjadi kebangkitan awal Mahatma Gandhi. Sepulang sekolah dari Inggris tahun 1891 dengan membawa titel sebagai pengacara, Gandhi pulang ke India. Gagal menjadi pengacara terkenal di India, Gandhi ditugaskan ke Afrika Selatan. Disana ia mendapat perlakuan rasialis dari kulit putih dan mulai memimpin pekerja Afrika Selatan untuk mendapatkan hak-hak mereka. Dan dari sini pula ia mulai mengembangkan ajarannya tentang anti-kekerasan.

Diantara ajaran Gandhi yang terkenal adalah Satyagraha, Ahimsa dan Swadesi. Styagraha adalah prinsip memgang teguh kebenaran. Semangat inilah yang menjadi dasar Gandhi dalam menggerakkan rakyat Afrikam Selatan untuk melawan ketidak adilan hukum yang terjadi disana. Pada saat itu Gandhi sebagai pendatang berkulit berwarna dari India diperlakukan dengan tidak adil. Namun dengan prinsip satyagraha yang dia anut Gandhi melawan dengan sepenuhnya tanpa kenal lelah dan dengan cara-cara yang tidak melanggar prinsip kebenaran.

Disana (Afrika Selatan) perjuangan persamaan hak yang dipelopori Gandhi menjadi pemantik sekaligus inspirasi gerakan persamaan hak di Afrika Selatan yang selanjutnya dilanjutkan oleh tokoh penentang dan penghapus Apartheid Nelson. Mandela.

Ajaran lain yang dikembangkan Gandhi adalah Ahimsa, anti kekrasan. Dengan prinsip anti kekerasan ini Gandhi mengorganisir rakyat India untuk melawan penjajahan Inggris dengan perlawanan pasif, tanpa senjata. Resistensi tanpa kekerasan yang dikembangkan Gandhi ini ternyata bisa dipahami oleh rakyat di India dan menjadi sejarah perjuangan perlawanan tanpa kekerasan yang sangat monumental terutama dalam lembaran sejarah kemerdakaan bangsa India. Mungkin Perjuangan yang dipimpin Gandhi ini bisa disebut sebagai Silent Majority Movement yang terbesar dalam sejarah.

Gandhi juga mengembangkan faham swadesi, cinta produk sendiri. Ia menenun sendiri hampir setiap lembar kain yang ia pakai. Gandhi juga mempromosikan untuk bangga dengan produk sendiri. Sebuah paham yang seharusnya diterapkan oleh bangsa kita. KArena paham ini setidaknya adalah indikator kesekian wujud Nasionalisme dalam era dunia Globalisasi, dunia yang sedang tunggang langgang saat ini.

Sebagai seorang figur Gandhi merupakan tokoh yang sangat kharismatis. Beliau adalah 'Nabi Perdamaian', tingkah lakunya terpuji. Gandhi adalah salah satu diantara pemimpin dunia yang sederhana, klharismatis, dan memiliki intergritas pribadi yang sangat tinggi. Ia membiasakan diri berpuasa dan selalu menepati janji kepada lawan dan kawan meskipun ia sendiri sering dibohongi.

Namun torehan tinta emas perjuangan Gandhi ternyata tidak mendapat penghargaan dari dunia Internasional. Meskipun Gandhi tercapat sebagai nominator penerima nobel perdamaian selama empat kali lebih yaitu untuk tahun 1937, 1938, 1939 dan 1947, namun faktan ya Gandhi tidak pernah satu kalipun mendapatkan penghargaan itu.

Padahal ajaranm dan paham yang dikembangkan Gandhi bersifat universal karena memperjuangkan keadilan dan kemasalahatan orang banyak. Kini setelah 100 tahun kelahirannya di Dunia, sosok Gandhi dan ajarannya adalah sosok yang sangat dirindukan untuk hadir dalam dunia yang sudah tidak menentu ini. Ajarannya tentang perdamaian sangat dibutuhkan untuk mengehntikan kekerasan i dunia ini dalam bentuk apapun. MAka sebagai generasi muda tiada salahnya kita berguru kepada Mahatama Gandhi.

“Truth exists, it alone exists. It is the only God and there is but one-way of realizing it; there is but one means and that is ahimsa. I will never give it up. May the God that is Truth, in whose name I have taken this pledge, give me the strength to keep it.”

"Kebenaran itu ada, dan benar-benar ada. Yang benar hanyalah tuhan dan hanya ada satu cara untuk mewujudkan kebenaran itu. hanya ada satu cara yaitu Ahimsa. Aku tidak akan pernah menyerah. Semoga Tuhan yang Maha Benar, satu nama yang aku bersumpah dengan nama itu memberikan kekuatan untuk menjaganya (kebenaran)".

Mohandas Karamchand Gandhi

Post a Comment

Thanks to visit my blog
Terima kasih sudah berkunjung